Cita rasanya mampu melayarkan ribuan kapal. Aromanya mengundang negara-negara Eropa berdatangan ke pulau-pulau Nusantara beberapa abad silam. Demikianlah Jack Turner menggambarkan bagaimana rempah Nusantara begitu menggoda dan memikat dunia dalam bukunya, Spice, The History of A Temptation (2004).

Euforia perdagangan rempah abad ke-16 merupakan kelanjutan dari rangkaian panjang sejarah rempah ribuan tahun lalu. Sebelumnya, para pedagang Arab telah memasarkan pala, bunga pala, dan cengkeh yang diambil dari Kepulauan Maluku.

Setelah dikumpulkan di Pantai Malabar, India, rempah-rempah itu diangkut ke Teluk Persia dan di sepanjang Lembah Eufrat, Mesopotamia, ke Babilonia. Catatan sejarah ini diperkuat dengan penemuan jambangan berisi cengkeh di gudang dapur sebuah rumah di Situs Terqa, Eufrat Tengah, Suriah, salah satu wilayah peradaban Mesopotamia.

”Saat ekskavasi dilakukan, arkeolog Italia, Giorgio Buccelati, begitu terkagum-kagum atas temuan sebuah wadah berisi cengkeh. Rupanya ia menggali di rumah seorang saudagar yang berasal dari masa 1700 sebelum Masehi,” kata arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, dalam diskusi ”Menggali Ulang Sejarah Rempah Nusantara” di Kantor Redaksi Harian Kompas, Januari lalu.

Rekan Buccelati, seorang ahli paleobotani, Kathleen Galvin, memastikan bahwa benda tersebut adalah cengkeh. Ia juga menegaskan, cengkeh tersebut berasal dari Kepulauan Maluku.

Rempah juga menjadi komoditas favorit Kerajaan Romawi Kuno dan Yunani. Rempah dihargai sangat tinggi seperti emas dan permata seperti yang dilakukan Ratu Syeba saat mempersembahkan batu permata, emas, dan rempah kepada Raja Sulaiman pada 992 sebelum Masehi.

Pada 408 Masehi, Raja Goths Alaric juga pernah meminta 3.000 pon lada sebelum merebut Romawi. Kejayaan rempah berlangsung sangat lama, bahkan pada abad ke-14 harga pala di Eropa masih sangat fantastis. Satu pon pala (0,45 kilogram) dihargai setara dengan tujuh lembu gemuk! (Spices, The History of Indonesia’s Spice Trade, Joanna Hall Brierly, 1994)

Berburu ke timur

Awalnya, tak banyak yang tahu dari mana asal rempah. Orang-orang Eropa semula hanya membelinya di Venesia atau Konstantinopel, sementara tempat tumbuhnya buah-buah itu entah di mana, hanya disebutkan dari daerah timur yang berada nun jauh di sana.

Embusan aroma rempah terlampau menggairahkan pelaut-pelaut Eropa untuk terjun dalam perburuan rempah. Kapal-kapal dari Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda pun berduyun-duyun mencari pulau-pulau penghasil rempah di Nusantara.

Kompas/Totok Wijayanto

Benteng Belgica di Pulau Banda Naira, Kepulauan Banda, Maluku, ini menjadi saksi sejarah atas kejayaan VOC di pulau penghasil pala tersebut. Belgica, dengan latar belakang Pulau Gunung Api, dibangun VOC tahun 1602.

Mereka bersaing untuk berlabuh pertama kali di daerah tujuan. Setiap negara menciptakan jalur pelayaran sendiri-sendiri, baik Portugis, Spanyol, Inggris, maupun Belanda.

Seorang pelaut Inggris, Sir Hugh Willoughby, mencoba peruntungan baru berlayar lewat sisi utara, sebuah rute baru di luar rute pelayaran umum sisi timur dan barat. Sebaliknya, bukan rute pendek yang ditemukan, Willoughby dan anak buahnya justru terjebak di lautan es membeku dan tewas pada 1553 di Kutub Utara, seperti ditulis Giles Milton dalam bukunya, Nathaniel’s Nutmeg:Or the True and Incredible Adventures of The Spice Trader Who Changed the Course of History (1999).

Untuk meraup keuntungan yang berlipat-lipat, tentu saja pedagang-pedagang barat tak puas hanya mengandalkan pasokan rempah dari pedagang India, Arab, China, dan Melayu yang didatangkan ke Pelabuhan Malaka. Mereka ingin berburu rempah ke tempat asalnya yang masih misterius.

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara menjadi awal penguasaan perdagangan rempah. ”Era ini diawali dengan perebutan pelabuhan terkaya di timur, yaitu Malaka, oleh Portugis,” kata Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Susanto Zuhdi.

Perdagangan rempah tidak hanya membawa kisah yang suram, tetapi juga menjadi kekuatan yang menyatukan Indonesia…

Malaka merupakan pelabuhan transit strategis, titik pertemuan distribusi rempah-rempah dari timur ke barat seperti halnya Singapura sekarang. Penulis Tome Pires (1468-1540) memberikan perumpamaan bahwa siapa pun yang menguasai Malaka dapat ”mencekik mati” Venesia.

Penguasaan poros ekonomi bahari ini secara otomatis merampas rantai perdagangan para pedagang di kawasan Malaka, termasuk mereka yang berasal dari kawasan Nusantara. Distribusi rempah yang panjang mulai dari Maluku,  Sulawesi, Kalimantan, Jawa, kemudian menuju Malaka berlanjut ke pasar rempah di Malabar, India, menyeberangi Samudra Hindia mengarah ke Persia, Laut Merah, Jeddah, Muskat, menyusuri gurun pasir Alexandria dan Levant, akhirnya dipotong di Malaka. Era monopoli perdagangan pun dimulai.

Kekuatan  yang menyatukan

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa secara silih berganti berujung pada praktik kolonialisasi. Bukan harga tinggi yang diperoleh, tetapi sebaliknya perampasan dan penindasan selama berabad-abad.

Namun, bagaimanapun, tradisi timur selalu mengajak siapa pun untuk mencari makna di balik pengalaman pahit. Persamaan nasib sebagai rakyat terjajah akhirnya membangkitkan kesadaran bersama tentang perlunya pembentukan sebuah bangsa yang mengatasi perbedaan antarsuku di Nusantara.

”Perdagangan rempah tidak hanya membawa kisah yang suram, tetapi juga menjadi kekuatan yang menyatukan Indonesia dengan berbagai masyarakat dan bangsa yang hidup di belahan dunia lainnya,” ujar Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid.

Hilmar melihat perdagangan rempah dalam sejarah Indonesia bukanlah sekadar perdagangan komoditas belaka, melainkan juga proses perniagaan yang memungkinkan terjadinya pertukaran nilai dan budaya yang turut membentuk identitas masyarakat Indonesia. Imajinasi perdagangan rempah dan terbentuknya Indonesia pada dasarnya mengingatkan kembali bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan.

Sejarah besar rempah yang bermula dari negeri ini telah terpatri di catatan dunia. Semua negara mengakui Hindia Timur, daerah kepulauan terbesar di dunia yang tak lain adalah Indonesia, sebagai daerah penghasil aneka macam rempah dari dahulu kala hingga sekarang.

Gali ulang sejarah

Berbekal sejarah besar inilah, harian Kompas bersama The Jakarta Post, Yayasan Bina Museum Indonesia, Kompas TV, Kompas.com, National Geographic Indonesia, dan LifeLike Pictures mencoba menggali ulang sejarah kejayaan rempah Nusantara dengan berbagai macam pendekatan. Harian Kompas akan mengupasnya dalam format ekspedisi yang menyuguhkan tulisan, foto, video, grafis, dan berbagai ulasan mendalam lainnya dalam platform cetak ataupun online.

Ekspedisi Jalur Rempah Harian Kompas mengeksplorasi sejarah kejayaan rempah di masa lalu hingga kondisi riilnya saat ini. Beberapa daerah sengaja dipilih Tim Ekspedisi Jalur Rempah Harian Kompas untuk dikunjungi, mulai dari kawasan Sumatera Selatan-Bangka Belitung, Lampung-Banten, Ambon-Banda, Maluku Utara, hingga Manado-Pulau Siau.

KOMPAS/Dimas Tri Adiyanto

Kebun lada di Ogan Komering Ulu Selata.

Potensi industri rempah di Indonesia saat ini masih besar. Di Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung, lada masih menjadi komoditas pertanian andalan masyarakat. Lada Bangka Belitung dan Lampung bahkan telah memiliki sertifikat indikasi geografis (SIG) yang diakui dunia, yaitu Muntok White Pepper dan Lampung Black Pepper.

Pada abad ke-16, Sumatera Selatan dan Lampung merupakan daerah pemasok lada untuk Kasultanan Banten. April lalu, tim ekspedisi bersama arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Sonny Wibisono, mencoba menelusuri sisa-sisa perkebunan lada tua di pedalaman Banten. Sejak dahulu kala, sultan-sultan Banten ternyata telah memanfaatkan lada sebagai media diplomasi ke luar negeri.

Berikutnya, tim berlayar ke kepulauan eksotis Banda, tempat negara-negara Eropa berburu pala. Sampai sekarang, pala masih dibudidayakan dan menjadi komoditas andalan masyarakat di beberapa pulau di sana, seperti Pulau Neira, Banda Besar, Ai, dan Run.

Di Maluku Utara, tim menelusuri pohon-pohon cengkeh tua di kaki Gunung Gamalama di Ternate; lalu ke perbukitan di Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat; dan kaki Gunung Kei Besi di Pulau Makian, Halmahera Selatan. Tim juga mendatangi benteng-benteng peninggalan Portugis, Spanyol, dan Belanda yang menjadi saksi perdagangan rempah.

Rute terakhir perjalanan Tim Ekspedisi Jalur Rempah Harian Kompas adalah Manado dan Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro). Pala Siau yang didatangkan dari Banda memiliki keunikan dengan kandungan mistisinnya yang tinggi. Pala Siau mewakili produk rempah masa kini yang telah diproteksi kualitasnya dengan penetapan SIG sejak Februari 2016.

KOMPAS/Dimas Tri Adiyanto

Kebun lada di Ogan Komering Ulu Selata.

Pada akhirnya, seluruh penyajian Ekspedisi Jalur Rempah ini diharapkan tidak sekadar jatuh pada pengulangan sejarah dan ingatan kolektif semata. Sebab, sejarah yang hanya diingat suatu saat pasti akan melemah dan akhirnya hilang.

Karena itulah, ingatan kolektif masyarakat Nusantara terus-menerus perlu digali untuk berintrospeksi dan mencari kemasan-kemasan baru yang aktual, mulai dari menata ulang manajemen budidaya rempah, memanfaatkan keragaman hayati rempah, mengemas paket wisata rempah, atau membuat gerakan seni budaya berbasis sejarah rempah yang bisa menguatkan identitas budaya bangsa.

Dalam diskusi ”Menggali Ulang Sejarah Rempah Nusantara” di harian Kompas, akhir Januari lalu, Susanto Zuhdi mengatakan, keberuntungan kita adalah bangsa-bangsa Eropa mencatat sejarah pencarian rempah di Nusantara dan bangsa yang kalah adalah bangsa yang hanya mengingat, tetapi tidak mencatat. Jangan sampai kita akhirnya kalah” karena terus-menerus terbuai dalam romantisisme ingatan, tetapi lupa untuk berbuat. (ALOYSIUS B KURNIAWAN/MUKHAMAD KURNIAWAN/RHAMA PURNAJATI)