Lada atau merica adalah bumbu utama. Pemakaian dan konsumsinya paling tinggi di dunia dibandingkan dengan tanaman rempah lain. Oleh karena itu, lada dijuluki ”raja rempah”. Tahukah Anda bahwa lada bisa dibudidayakan di teras rumah kita?

Konsumsi lada sebenarnya relatif kecil. Sesuai Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi lada rata-rata 0,13 kilogram per kapita per tahun, rata-rata hanya tumbuh 1,29 persen per tahun selama kurun 2002-2014. Tahun ini, konsumsi diperkirakan 0,156 kilogram atau 156 gram per kapita.

Dengan konsumsi sebesar itu, kebutuhan setiap orang sebenarnya bisa dipenuhi dari satu pot lada perdu. Berdasarkan penelitian Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), produksi lada perdu bisa mencapai 200-500 gram per tanaman usia 2-3 tahun, cukup untuk 2-4 anggota keluarga.

M Syakir dalam Monograf Tanaman Lada menyebutkan, bibit lada perdu diperoleh melalui setek cabang primer dan sekunder tanaman lada. Metode ini dianggap lebih menguntungkan karena kebutuhan lahan dan biaya perawatan lebih kecil dibandingkan dengan cara budidaya umumnya di kebun dengan tiang atau tajar panjat.

Lada perdu juga bisa menjadi solusi mengatasi keterbatasan lahan perkotaan. Sebab, lada ditanam di pot atau polybag di teras, pekarangan, atau atap rumah. Dengan jarak tanam 1 meter x 2 meter, populasi lada perdu bisa mencapai 5.000 pohon per hektar lahan, lebih besar ketimbang metode tanam langsung dengan tiang panjat yang rata-rata 16.000 pohon per hektar berjarak 2,5 meter x 2,5 meter.

Bagaimana menanam lada perdu? Siapkan terlebih dahulu media semai yang terdiri dari campuran kompos dan tanah gembur. Perbandingannya, 1 kompos  berbanding 2 tanah gembur, tanah sebaiknya kering atau belum padat. Lalu, masukkan media semai ke dalam polybag ukuran sedang atau 10 sentimeter x 15 sentimeter.

Kompas/Iwan Setiyawan

Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung menunjukkan bibit lada yang dikembangkan di BPTP Lampung, Rabu (5/4).

Setelah itu, ambil bahan tanam lada perdu. Bibit diambil dari percabangan lada yang cukup tua. Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung, Firdausil Akhyar, menyarankan pengambilan cabang sebaiknya dilakukan setelah panen atau pada saat lada tidak berproduksi. Waktu pemotongan cabang idealnya pagi atau sore agar tidak lekas layu. Selain itu, pakai alat potong yang tajam, bersih, dan sebaiknya cuci dengan alkohol.

Persiapan selanjutnya adalah penyetekan yang bisa dibuat dengan cara setek tapak dan tanpa tapak. Setek dengan tapak dibuat dengan menyisakan sebagian akar pada buku panjat sebagai tapak, tetapi mata tunasnya dibuang. Sementara setek tanpa tapak tidak mengikutkan akar buku panjat.

Setelah setek siap, rendam bagian pangkalnya terlebih dulu dalam air kelapa selama 15 menit. Cara ini dilakukan untuk memberi asupan nutrisi agar cepat mengeluarkan perakaran dan meningkatkan keberhasilan persemaian.

Demi menjaga kelembaban dan meningkatkan persentase keberhasilan persemaian, perlu penyungkupan dengan plastik. Plastik dibuat sebagai atap dan sebaiknya dilakukan selama satu bulan. Setelah itu, tanaman siap pelihara. Perhatikan beberapa hal ini selama pemeliharaan, antara lain amati kelembaban polybag setidaknya tiga hari sekali, siram jika media tanam kering, ganti setek yang layu dengan setek baru, air siraman dicampur dengan pupuk cair atau larutan NPK, setelah tiga bulan bibit lada perdu siap tanam.

Selamat mencoba!

(MUKHAMAD KURNIAWAN/DEWI PANCAWATI/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN/VINA OKTAVIA)