Cengkeh dan pala, tanaman asli Nusantara, adalah komoditas paling diburu di abad ke-16. Perburuannya mendorong pelayaran dunia, sekaligus penjajahan. Namun, aromanya tak pernah benar-benar harum bagi petani.

Gerimis mengiringi langkah menembus perkebunan rakyat di lereng Gunung Kie Besi di Pulau Makian, Provinsi Maluku Utara, awal Mei 2017. Di kanan-kiri, vegetasi begitu lebat. Pohon cengkeh, pala, kenari, dan kelapa tumbuh berdekatan.

Buah muda pala, kenari, dan kelapa tampak muncul di antara cabang-cabang pohon dan rimbunnya dedaunan. Namun, tak demikian dengan pohon cengkeh. Cengkeh seperti enggan berbunga. Padahal, bunga semestinya sudah merekah dan buah menunggu matang menjelang masa panen pada Juli hingga Oktober setiap tahun.

”Cengkeh memang tidak seperti dulu kondisinya. Produksinya sudah jauh turun. Jika semula bisa panen setiap tahun, sekarang panen cengkeh hanya lima tahun sekali,” tutur Adnan Samad (42), petani Desa Gitang, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan.

Penurunan produksi terjadi setelah Gunung Kie Besi meletus tahun 1988. Abu vulkanik menutup pepohonan dan mematahkan banyak ranting pohon di lereng gunung. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menanti tumbuhnya ranting baru. Namun, setelah banyak vegetasi tumbuh lagi, hanya cengkeh yang produksinya turun.

Panen terakhir dari sekitar 50 pohon cengkeh milik Adnan terjadi tahun 2016. Itu setelah lima tahun cengkeh tidak menghasilkan buah. Saat panen, dari setiap pohon yang kini rata-rata telah berusia 50 tahun, diperoleh 20-25 kilogram cengkeh. Padahal, sebelum gunung meletus, hasil sebanyak itu bisa diperoleh setiap tahun.

Kompas/Hendra A Setyawan

Hamadal (65) merawat bibit cengkeh jenis Afo di kawasan Marigurubu, Ternate, Maluku Utara, Rabu (3/5). Pembibitan cengkeh Hamadal itu memasok kebutuhan bibit cengkeh di kawasan Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Cengkeh merupakan salah satu komoditas andalan warga.

Petani tak bisa berbuat banyak atas kondisi ini. Ilmu budidaya cengkeh yang mereka miliki sangat terbatas. Akhirnya mereka hanya menerima saja ketika produksi cengkeh turun.

Saat cengkeh tak lagi menjanjikan, petani bergantung pada jenis tanaman lain, salah satunya pala. Namun, tak seperti cengkeh, pala bisa berbuah sepanjang tahun. Bahkan, petani bisa meraup untung dari bibit pala. Bibit pala Makian banyak dicari untuk penanaman pala baru di sejumlah wilayah di Pulau Halmahera, Maluku Utara, karena terkenal baik kualitasnya.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada masalah. Petani kerap menjumpai hama menyerang pala. Hama membuat biji pala pecah menjelang waktu panen. Akibatnya, hasil panen tak maksimal.

Menghadapi masalah ini, tidak banyak pula yang bisa dilakukan petani. ”Kami mengikuti apa yang dilakukan orang-orang tua kami kalau hama menyerang. Daun-daun yang gugur kami kumpulkan di bawah pohon, lalu kami bakar. Dengan pengasapan itu, sedikit-sedikit hama bisa hilang walau tidak hilang seluruhnya,” tutur Halil Muhammad (50), petani Gitang lainnya.

KOMPAS/Novan Nugrahadi

Kebun cengkeh di Pulau Makian.

Di Makian, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan yang membawahi wilayah Makian sebenarnya telah mendirikan Balai Penyuluhan Pertanian di Desa Ngofakiaha. Namun, balai tersebut sepi dari aktivitas penyuluh. Bangunan balai pun tak terurus. Rumput liar dibiarkan tumbuh tinggi menutupi halaman.

”Awal-awal saja, ketika kantor didirikan tahun 2005, ada petugas datang. Namun, itu pun hanya duduk diam di kantor, tak berapa lama pulang. Saat ini, kantor justru tidak pernah didatangi petugas,” ujar Kepala Desa Ngofakiaha Abdullah Karim.

Kisah pilu ini tak hanya terdengar di Makian. Petani Desa Taboso di Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, pun memilih menomorduakan cengkeh. Pala kemudian menjadi pilihan utama meski kendala hama kerap kali menjadi ganjalan.

”Cengkeh pernah coba ditanam, tetapi mati. Ganti pala, ada hasil buah setiap bulan, tetapi sering juga diserang hama. Kalau sudah terserang, buah banyak yang pecah sebelum tiba masa panen. Kami mengikuti orang-orang tua saja kalau sudah terserang hama. Kami tabur garam di sekitar tanaman. Sedikit-sedikit bisa teratasi,” tutur Petrus Gule (48), petani Taboso.

Monopoli

Makian dan Halmahera, bersama sejumlah pulau lain di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, dan Moti, sesungguhnya menjadi lokasi asal mula tumbuhnya tanaman cengkeh. Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa di Eropa, abad ke-16, cengkeh yang tumbuh di lereng pulau gunung api di Ternate, Tidore, Makian, dan Moti telah menjadi incaran bangsa-bangsa asing.

Kompas/Hendra A Setyawan

Bangunan bekas benteng yang berada di Pulau Makian, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Minggu (7/5). Pulau Makian adalah salah satu penghasil cengkeh di Maluku Utara.

Gemilang cengkeh kala itu disertai pula kisah perburuan hingga monopoli cengkeh yang menyita banyak waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa. Dari sekelumit kisah itu, posisi petani cengkeh tak banyak berubah, selalu dirugikan.

”Keuntungan dari cengkeh banyak tersedot untuk kepentingan kesultanan memenangkan pengaruh dan kekuasaan di tengah persaingan antar-kesultanan yang ketat,” ujar sejarawan Universitas Khairun, Ternate, Irfan Ahmad.

Sebelum bangsa-bangsa Eropa datang, cengkeh dimonopoli empat kesultanan: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan, yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Hasil dari cengkeh bahkan membuat Ternate dan Tidore mampu memperluas kekuasaannya hingga ke luar wilayah Maluku Utara saat ini.

Ketika Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda datang bergantian, giliran mereka memonopoli cengkeh. Untuk memastikan monopoli berjalan lancar, benteng dibangun di setiap penjuru pulau. Para sultan tidak keberatan dengan hal ini. Sebab, sebagai imbalan, ada sokongan bangsa asing untuk memperkuat kekuasaan mereka dalam memenangi persaingan antar-kesultanan.

Kondisi petani kian terpuruk tatkala cengkeh yang menjadi sumber utama penghidupan dimusnahkan Belanda tahun 1652. Pemusnahan pohon-pohon cengkeh, atau disebut pula hongi tochten, merupakan upaya Belanda mendongkrak harga cengkeh yang merosot akibat melimpahnya cengkeh di pasar internasional.

Selanjutnya, meskipun era kolonialisme tumbang, itu tidak serta-merta mengangkat kesejahteraan petani cengkeh. Di era Orde Baru, monopoli cengkeh yang dikendalikan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh telah menghancurkan harga cengkeh, jauh dari niat awalnya untuk mendongkrak harga.

Setelah Orde Baru, tak ada lagi monopoli cengkeh. Namun, nasib petani terombang-ambing mengikuti naik-turunnya harga yang ditentukan oleh pedagang. Tidak banyak yang bisa dilakukan petani di tengah sistem perdagangan bebas ini.

Petani pun dibiarkan membudidayakan cengkeh dengan pola tradisional di tengah kemajuan teknologi budidaya cengkeh. Petani juga dibiarkan tanpa pendampingan saat cengkeh yang mereka tanam tak tumbuh ataupun berproduksi semestinya.

Meski demikian, hal itu tidak lantas menyurutkan minat warga Maluku Utara membudidayakan cengkeh. Pemilik UD Makmur Jaya, salah satu pengepul cengkeh di Ternate, Stephen Tjora, melihat banyak cengkeh ditanam beberapa tahun belakangan. Cengkeh-cengkeh baru itu banyak ditanam di Halmahera.

Kompas/Hendra A Setyawan

Para pekerja mengangkut cengkeh untuk dikirim ke luar Ternate di UD Makmur Jaya, Ternate, Maluku Utara, Rabu (3/5). Ternate adalah penghasil cengkeh utama di Tanah Air.

Tren yang sama terjadi pada pala. Cengkeh dan pala ditanam menggantikan tanaman-tanaman kakao yang produksinya tak lagi menguntungkan petani akibat usia tanaman yang sudah melampaui usia produktif.

Dia pun memprediksi lonjakan produksi cengkeh dan pala dampak dari penanaman bibit-bibit baru itu akan terjadi mulai tahun 2020. Bibit cengkeh dan pala yang ditanam membutuhkan waktu setidaknya lima tahun sebelum mulai berbuah.

Sejumlah penangkar cengkeh dan pala di Makian dan Ternate mengafirmasi hal ini. Dari dua pulau itu, puluhan hingga ratusan ribu bibit dibeli untuk ditanam di Halmahera. Bibit cengkeh Afo, cengkeh tertua di Maluku Utara yang selamat dari hongi tochten, terdapat di antara bibit yang dipasok ke Halmahera.

”Hampir setiap bulan selalu ada permintaan bibit untuk ditanam di Halmahera,” ucap Ketua Kelompok Tani Ake Guraci di  Kelurahan Marikrubu, Ternate, Hamadal.

Menurut pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Khairun, Ternate, Indah Rodianawati, geliat ini seharusnya bisa ditangkap pemerintah dengan memberikan perhatian yang lebih serius.

Pendampingan pada petani bisa lebih mendongkrak produksi dan kualitas cengkeh dan pala. Pendampingan bahkan bisa memperluas pemanfaatan tidak sebatas pada buahnya.

Sebab, tidak semata dari buah petani bisa meraup untung. Daun cengkeh dan pala, misalnya, bisa diolah menjadi minyak atsiri yang dibutuhkan industri farmasi, pangan, dan kosmetik. Daging buah pala juga bisa diolah menjadi beragam makanan dan minuman, seperti jus dan manisan.

”Namun, hingga kini, daun cengkeh dan pala, lalu daging buah pala, dibuang begitu saja. Hanya sedikit yang mau mengolahnya. Selain petani tidak memiliki keahlian untuk mengolah, juga karena ada pikiran dari petani bahwa mereka cukup menggantungkan hasil dari buah cengkeh dan pala saat panen,” tutur Indah.

Seandainya saja perhatian pada budidaya cengkeh dan pala, serta pengolahan unsur lain yang bernilai ekonomis, paripurna, cengkeh dan pala Maluku Utara akan kembali ke puncak keemasannya, yaitu menjadi buruan dunia. Namun, bedanya kali ini, keuntungan lebih besar bagi petani.

Indonesia merupakan negara penghasil cengkeh terbesar di dunia. Selama  2008-2012, produksi cengkeh Indonesia  menyumbang 79,8 persen produksi dunia. Ekspor pun tumbuh 15,2 persen selama kurun 2011-2015. Tahun 2015, nilainya 824,37 juta dollar AS, tertinggi dibandingkan komoditas rempah lain. Namun, nasib petani tak seindah data. Sebagaimana tergambar dari nilai tukar petani (NTP), petani  perkebunan masih jauh dari sejahtera.

(ANTONIUS PONCO ANGGORO/MUKHAMAD KURNIAWAN)