Sejumlah situs pertahanan yang tersisa dari jejak hegemoni rempah oleh bangsa asing di Pulau Ternate dan Tidore masih bisa dijumpai saat ini. Sebagian besar benteng yang masih berdiri hanya menyisakan bagian fondasi atau struktur bawahnya. Struktur dinding dan atapnya telah banyak yang runtuh seiring dengan berjalannya waktu.

Ada juga benteng yang telah dipugar sehingga menyerupai bentuk awalnya. Benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda ini menjadi saksi perebutan kekuasaan atas komoditas cengkeh dan pala sejak awal abad ke-16.

Konon, Benteng Kastela yang dibangun pada tahun 1522 adalah benteng terbesar di Pulau Ternate, tetapi saat ini hanya tersisa sebagian kecil. Di Pulau Tidore hanya tersisa dua benteng di sisi tenggara.

Benteng lain yang terletak di utara dan barat pulau ini sudah tidak tersisa lagi. Bangunan baru berupa monumen didirikan sebagai pengingat lokasi pendaratan bangsa Spanyol di Tidore.

Sejumlah benteng yang telah direstorasi diubah fungsinya menjadi tempat wisata sejarah. Bentuk benteng di Maluku Utara yang bervariasi merupakan rancangan dari tiga bangsa asing yang datang, antara lain:

KOMPAS/Novan Nugrahadi

Benteng Oranje peninggalan Belanda di Ternate.

KOMPAS/Novan Nugrahadi

Benteng Kalamata peninggalan Portugal di Ternate.

KOMPAS/Novan Nugrahadi

Benteng Tahula peninggalan Spanyol di Tidore.