Kebutuhan ekonomi memaksanya hijrah merantau ke Pulau Andalas. Awalnya, dia tak punya apa-apa selain badan dan kemauan. Namun, berkat keuletannya, Lukito (59) tumbuh berkembang menjadi ”duta” lada, baik di panggung nasional maupun internasional.

Tepat ketika suhu politik di Pulau Jawa memanas pada 1965, Lukito bersama adik, kakak, dan ayahnya berangkat mengadu nasib ke Lampung. Karena desakan kebutuhan ekonomi, keputusan berat itu harus mereka jalani. Apalagi, di daerah asal mereka di Brebes, Jawa Tengah, Lukito dan keluarga tidak memiliki lahan persawahan yang bisa menopang kebutuhan hidup sehari-hari.

Di Lampung, Lukito sekeluarga bergabung dengan para pendatang lain membuka lahan-lahan perkebunan baru milik warga setempat di Desa Sukadana Baru, Kecamatan Margatiga, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Pekerjaan merintis daerah perkebunan baru sangat berat karena proses pembukaan lahan hutan butuh waktu lama.

”Di awal merantau, hidup kami sangat susah. Kami harus benar-benar menghemat agar bisa bertahan,” ujar bapak dua anak yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ini.

Meski demikian, perjuangan berat itu tak sia-sia karena dengan sistem bagi hasil, para penggarap lahan seperti Lukito pada saat itu bisa mendapatkan jatah separuh hasil panen dan tanah. Tahun 1975, sepuluh tahun setelah merantau, kerja keras Lukito membuahkan hasil berupa tanah seluas 1 hektar yang kemudian ia tanami lada dan kopi.

Kompas/Iwan Setiyawan

Lukito merawat bibit tanaman lada yang menjadi komoditas utama di Desa Sukadana Baru, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, Provinsi Lampung, Selasa (4/4).

Memasuki 1980, Lukito memberanikan diri menyewa lahan tambahan seluas setengah hektar untuk ditanami lada. Ketekunannya bercocok tanam lada membuahkan hasil panen yang luar biasa. Tak ayal, tanah itu pun langsung ia beli.

Begitu seterusnya, pada 1984 Lukito kembali memperluas tanah garapan dengan membeli tanah, juga tahun 1988, 1992, dan 2015. Sampai saat ini, total luas lahan perkebunan milik Lukito mencapai 6 hektar dan hampir seluruhnya ditanami lada.

Selain bisa membeli tanah, berkat lada, Lukito juga bisa membangun rumah, membeli sepeda motor dan mobil, bahkan berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji pada 2008 dan 2011. Tiga tahun ke depan, ia akan kembali berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji untuk ketiga kali bersama istri dan mertuanya.

Dalam setahun, kebun lada milik Lukito seluas 6 hektar bisa menghasilkan rata-rata 5-6 ton per hektar. Pada musim yang bagus, hasil panenan bisa menyentuh 7 ton. Saat ini, harga lada Lampung yang sudah dikeringkan menjadi lada hitam mencapai Rp 70.000 per kilogram.

Bentuk kelompok

Desa Sukadana Baru, tempat Lukito tinggal, adalah salah satu sentra utama penghasil lada hitam Lampung. Di sana, setidaknya ada sekitar 500 hektar perkebunan lada.

Ketekunan Lukito merawat tamanan lada selama puluhan tahun membuat dirinya paham benar risiko membudidayakan tanaman semusim itu. Lada hanya berbuah sekali selama setahun. Untuk itu, tanaman lada harus dirawat dengan baik agar tidak terserang penyakit.

Tahun 2003, Lukito berinisiatif membentuk Kelompok Tani Sido Rukun. Kelompok tani yang beranggotakan 20 petani lada itu dibentuk sebagai wadah untuk berkomunikasi dan berbagi informasi tentang cara budidaya lada.

Lukito dan para petani di desa itu telah mampu mengembangkan bibit lada secara mandiri. Selain menggunakan bibit itu untuk peremajaan lada di kebunnya, mereka juga menjual bibit lada kepada petani di tempat lain. Pesanan bibit lada tidak hanya datang dari luar kabupaten, tetapi juga luar provinsi.

Selain mempertahankan bibit unggul, petani juga bertahan menggunakan pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang serta perawatan intensif terbukti efektif menekan serangan penyakit pada tanaman lada.

Lewat kelompok tani itu, petani juga bertukar informasi terkait perkembangan harga lada setiap hari. Dengan berkelompok, petani lada di desa mempunyai daya saing yang lebih tinggi di depan pengepul. Mereka tidak mudah terjebak menjual lada dengan harga rendah yang ditawarkan para tengkulak.

Jadi rujukan

Kesuksesan Lukito merawat tanaman lada dan memberdayakan kelompok tani membuatnya menjadi rujukan para petani lada dari daerah lain. Dia juga kerap mendapat kunjungan peneliti, pengusaha, dan mahasiswa yang ingin mengetahui cara-cara budidaya tanaman lada. Mereka yang datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Selama ini, Lukito selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin belajar tentang budidaya lada. Namun, dia mengaku waswas saat mendapat kunjungan dari peneliti atau petani dari negara lain. Ia khawatir, mereka yang datang hanya ingin mencuri ilmu budidaya lada dari petani Indonesia. Oleh karena itulah, Lukito agak berhati-hati saat menerima kunjungan dari luar negeri.

Ketekunan Lukito merawat lada telah membuktikan bahwa petani juga bisa meraih kesejahteraan dari bercocok tanam. Di desanya, ia menjadi sosok panutan yang disegani oleh tetangganya.

Atas kesuksesannya membudidayakan lada, Lukito beberapa kali mendapat penghargaan tingkat nasional dan internasional. Tahun 2011, dia mendapat penghargaan dari International Pepper Community sebagai petani terbaik dari Indonesia. Penghargaan sebagai petani terbaik itu juga diraih Lukito pada tahun 2012 dan 2015. Di tanah rantau, Lukito sukses ”memuliakan” tanaman lada. (VINA OKTAVIA/ALOYSIUS B KURNIAWAN/MUKHAMAD KURNIAWAN)