Nilai ekonomi cengkeh sejatinya tak semata pada bunganya. Demikian pula pala, tak hanya pada biji dan fulinya. Permintaan atas produk turunannya terus naik sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus kebutuhan manusia. Namun, situasi belum banyak berubah di Kepulauan Maluku, negeri asal rempah yang pernah menjadi sasaran penjelajahan bangsa-bangsa Eropa.

Dalam perjalanan melintasi kebun cengkeh dan pala di punggung Gunung Kie Besi, Pulau Makian, Provinsi Maluku Utara, awal Mei 2017, Syahril (30) mengungkapkan kekecewaannya ketika melihat banyak daun cengkeh gugur dan dibiarkan begitu saja. ”Seharusnya (daun) ini bisa jadi uang,” ujarnya.

Syahril tahu bahwa daun dan tangkai cengkeh bisa diolah dan dijual dalam bentuk minyak. Minyak atsiri cengkeh adalah bahan obat-obatan, kosmetik, serta dibutuhkan industri makanan dan minuman. Namun, dia tak tahu bagaimana mengolahnya, berapa modalnya, ke mana menjualnya, dan yang paling krusial adalah kepada siapa harus bertanya.

Makian adalah satu dari lima pulau yang disebut sebagai daerah asal cengkeh (Eugenia aromatica). Para pakar tumbuhan menyatakan, sebelum disebar ke wilayah lain di Nusantara dan dunia, cengkeh hanya tumbuh di Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan.

Akan tetapi, seperti halnya Syahril dan petani lain di Makian, petani cengkeh di Ternate, Tidore, dan beberapa kabupaten di Pulau Halmahera hanya memanen bunga cengkeh sebagai komoditas yang dinilai layak jual. Selebihnya, seperti daun, tangkai, dan ranting, dibiarkan jatuh dan mengering di kebun.

Di desa yang mayoritas petaninya menanam pala di Taboso, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, situasinya tak jauh beda. ”Turun-temurun, hasil pala yang dimanfaatkan hanya biji dan fuli. Di luar itu, dibuang saja. Kalau ada yang mengajarkan cara mengolah bagian lainnya, lumayan untuk menambah penghasilan,” kata  Petrus Gule (48), petani pala di Taboso.

Di Manado, Sulawesi Utara, Petrus Gule memperoleh informasi bahwa kulit buah pala bisa dimanfaatkan menjadi bahan obat pengusir nyamuk. Mereka kerap mencari kulit itu sampai ke Taboso. Namun, kulit dan daging buah pala ditinggal di kebun seusai panen. Hanya sedikit yang dimanfaatkan menjadi manisan atau sirup.

Peneliti di Dewan Atsiri Nasional sekaligus dosen Program Studi Teknologi Pertanian Universitas Khairun, Indah Rodianawati, menyebutkan, selain bunga, nilai tambah cengkeh juga bisa diperoleh dari pengolahan gagang atau tangkai dan daun cengkeh menjadi minyak atsiri. Minyak ini dipakai, antara lain, di industri farmasi dan kosmetik terutama karena aromanya. Selain itu, minyak cengkeh juga mempunyai komponen eugenol yang memiliki sifat sebagai stimulan, anestetik lokal, antiseptik, dan antipasmodik.

Nilai tambah gagang cengkeh naik 200 persen dalam kondisi kering dan meningkat hingga 220 persen setelah diolah menjadi minyak atsiri. Demikian pula dengan daun cengkeh yang nilainya naik 200 persen setelah jadi minyak atsiri. Minyak ini dapat diolah menjadi minyak gosok, sabun, serta minyak dan lilin untuk terapi aroma.

Produk turunan minyak atsiri juga dibutuhkan untuk spa, kosmetik, makanan dan minuman, pengendalian serangan hama, pakan ternak, bahkan obat bius ikan. Permintaan minyak atsiri cengkeh diperkirakan bakal terus naik seiring dengan beragamnya aplikasi dan penemuan baru.

Usaha rintisan

Sayangnya, selain bunga cengkeh serta biji dan fuli pala, pemanfaatan bagian lain tanaman rempah itu masih terbatas. Namun, Indah dan beberapa pengusaha kecil menengah lain di Ternate, Maluku Utara, telah membuka usaha rintisan pengolahan pala dan cengkeh.

Kompas/Hendra A Setyawan

Produk olahan pala dijual di sebuah gerai swalayan di Ternate, Maluku Utara, Senin (8/5).

Di luar tugas mengajar dan membagikan pengetahuan tentang pengolahan pala dan cengkeh, Indah serta beberapa mahasiswanya mengolah daging pala menjadi sirup, sari buah, manisan, selai, dodol, dan keripik. Selain itu, daun dan tangkai cengkeh disuling untuk diambil minyaknya. Hasil penyulingan dijual sebagai bahan aroma terapi, minyak esensial, dan minyak gosok.

Eksperimen lain yang kini telah menjadi oleh-oleh khas Ternate adalah olahan cokelat. Indah menggunakan pala dan cengkeh dalam adonan sehingga cokelatnya terasa unik. Dengan bendera Qonita Production, Indah dan mahasiswanya bisa meraup omzet hingga Rp 10 juta per bulan, terkadang lebih besar jika mereka mengikuti pameran.

Dengan berkembangnya unit-unit usaha kecil pengolah, petani cengkeh dan pala di kawasan itu pun mendapat hasil tambahan. Kini, sebagian daging pala diangkut dan dijual ke unit-unit pengolah. Qonita, misalnya, menyerap hingga 100 kilogram daging pala seharga Rp 300.000 setiap bulan.

Menurut Indah, petani cengkeh dan pala sesungguhnya bisa lebih sejahtera jika mereka mau mengolah cengkeh dan pala di luar produk utamanya. Apalagi selama ini kesejahteraan petani kerap terombang-ambing karena naik-turunnya harga cengkeh dan pala yang tak menentu.

Sayangnya, keinginan mengolah dinilai belum banyak muncul. ”Mereka (petani) sering merasa sudah dapat penghasilan dari bunga cengkeh, biji pala, atau fuli pala, lalu buat apa bersusah payah mengolah yang lainnya? Mereka kerap merasa sudah cukup dengan hasil yang diperoleh,” tuturnya.

Di sinilah sesungguhnya kehadiran pemerintah dinantikan. Pemerintah harusnya bisa memotivasi petani, mengubah pola pikir mereka. Tak cukup di situ, menjadi tugas pemerintah untuk memfasilitasi dan mendampingi mereka hingga petani bisa mengolah sendiri. Ditambah lagi mencarikan pasar bagi produk olahan sehingga petani terus terangsang untuk membuatnya karena produk itu nyata bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.

”Keseriusan ini yang belum terlihat dari pemerintah. Kalaupun ada program yang mengarah ke sana, sering kali realisasinya hanya sekadar ada. Belum terlihat keseriusan mendampingi petani hingga mereka bisa mandiri, apalagi sampai menyiapkan pasar bagi produk olahannya,” ujar Indah.

Sungguh kenyataan yang pahit ketika cengkeh dan pala belum optimal dimanfaatkan. Apalagi kenyataan ini terjadi di tempat asal cengkeh dan pala. Pengetahuan dan teknologi untuk mengolah beragam produk dari cengkeh dan pala bergerak kencang, tetapi perubahan itu tak menyentuh petani. Kehidupan petani tetap sama seperti sebelum abad ke-19 saat hanya produk utama cengkeh dan pala yang dimanfaatkan nilai ekonominya.