Di tangan Fauziah Madjid (43), janda-janda di Desa Guaimaadu, Kecamatan Jailolo, jadi berdaya. Mereka adalah juru masak, pekerja kebersihan, cuci, dan setrika, sekaligus penyedia tempat penginapan. Pelaku utama pariwisata di Teluk Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara.

”Nanti jangan lupa makan siang ya, saya tunggu di sini, benar lho, jangan sampai lupa. Saya masakin yang enak-enak,” kata Fauziah, mengingatkan tamu yang menginap di rumahnya di Guaimaadu, awal Mei 2017.

Pembawaan Ibu Fau, panggilan Fauziah, ramah dan hangat. Dalam sekejap, dia bisa akrab dengan tamu-tamunya, selayaknya seorang ibu kepada anak-anaknya. Begitu tiba di rumahnya, segala keperluan tamu dipastikan tersedia, setidaknya dia akan bilang, ”Jika butuh sesuatu, bilang saja, nanti saya cari.”

Rumah milik Fauziah adalah penginapan (homestay) favorit di Guaimaadu. Sambutan yang hangat, makanan yang enak, dan pelayanan yang ramah membuat tamu menjadi betah. Oleh karena itu, meski ada aturan bersama tentang pemakaian kamar berdasarkan daftar urutan rumah penginapan, rumah milik Fauziah jadi prioritas pertama.

Saat Kompas singgah pada 5-6 Mei 2017, kamar-kamar di rumah Fauziah terisi penuh oleh para penari besutan Eko Supriyanto (46), koreografer yang pernah menjadi penari dalam tur dunia penyanyi Madonna tahun 2001. Ketika itu, mereka bersiap mengisi acara dalam rangkaian Festival Kepulauan Rempah dan Festival Teluk Jailolo 2017.

Kiprah Fauziah bermula ketika dirinya membuka usaha katering tahun 2009. Dia tergerak mengajak beberapa tetangganya, semuanya janda, untuk terlibat pada usaha jasa penyediaan makanan dan minuman. Sasaran pasarnya adalah instansi pemerintah yang menggelar acara di Desa Guaimaadu atau Gamtala dan Kecamatan Jailolo.

Ketika itu, Festival Teluk Jailolo (FTJ) telah beberapa kali digelar Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, bekerja sama dengan Pemrintah Provinsi Maluku Utara dan Kementerian Pariwisata. Tujuannya, menggairahkan pariwisata di kawasan Teluk Jailolo. Sayangnya, infrastruktur pendukung belum terbangun, khususnya penginapan dan rumah makan.

Kompas/Hendra A Setyawan

Panorama di kawasan Teluk Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, Minggu (6/5). Sejumlah festival digelar pemerintah daerah di Maluku Utara untuk menggaet wisatawan dengan mempromosikan rempah melalui pariwisata dan usaha nonperdagangan.

Pada tahun-tahun awal penyelenggaraan FTJ, tamu undangan dan wisatawan umumnya menginap di Ternate, pusat keramaian Maluku Utara. Padahal, waktu tempuh Ternate ke Jailolo berkisar 1-3 jam, terlalu repot bagi sebagian wisatawan karena harus ganti beberapa moda transportasi. Dari Ternate, pengunjung harus menyeberang ke Pulau Halmahera dengan kapal, penyeberangan tujuan Sidangoli, dan lanjut perjalanan darat Sidangoli-Jailolo.

Para janda

Pengunjung FTJ terus meningkat dari tahun ke tahun. Acara ini bahkan telah masuk kalender pariwisata. Daya tariknya adalah pentas kesenian tradisional, pantai berair jernih yang menggoda tamu untuk berenang, serta beberapa tempat penyelaman yang dinilai eksotis karena keindahan pemandangan bawah lautnya.

Perkembangan itu mendorong Fauziah memperbaiki kamar untuk menyambut tamu yang datang. Dia ingin, selain puas dengan makanan yang disajikan, tamu pulang dengan perasaan puas karena menginap di tempat yang layak. Oleh karena itu, dia memasang alat pengatur suhu (AC) kamar serta menyediakan kasur, tempat makan, dan kebutuhan lain seperti alat selam, snorkeling, dan perahu.

Sama seperti ketika membuka usaha katering, Fauziah melibatkan janda untuk mengelola penginapan. Ada yang memasak, mencuci, dan membersihkan kamar dan rumah. Usaha itu memang tak selalu mulus. Namun, Fauziah tak pernah mau menyerah.

Selain bagi diri dan keluarga, ikhtiarnya diniatkan untuk membantu kehidupan para janda dan keluarganya. ”Saya selalu membayangkan bagaimana jika saya menjadi mereka (janda), sudah tak ada suami dan harus bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, harus menghidupi dan mencukupi kebutuhan anak-anak, bahkan orangtuanya yang sudah tua,” ujar Fauziah.

Fauziah seperti punya ”daftar janda” di desanya. Selain bercerai, mereka kehilangan suami karena kecelakaan di laut, meninggal karena sakit, atau lama ditinggal suami dan tak jelas kapan kembali. Fauziah tahu siapa di antara mereka yang membutuhkan bantuan dan terdesak kebutuhan, siapa yang bisa dipanggil untuk bekerja segera, berikut keterampilannya.

Dari daftar itu, dia menambah jumlah pekerja saat diperlukan, seperti ketika tiba-tiba Jailolo kedatangan tamu dalam jumlah besar. Jika pada 2012 hanya mempekerjakan dua orang, kini Fauziah melibatkan 15 janda untuk mengelola usahanya.

Kelompok wisata

Selain memberdayakan para janda, Fauziah juga aktif menggerakkan pariwisata di desanya. Pada kurun 2007-2009, ujar Fauziah, tak mudah mengajak warga untuk memperbaiki desa demi kenyamanan tamu. Tahun 2011, penyelenggaraan FTJ bahkan diprotes karena dianggap merepotkan warga. Warga merasa harus mengeluarkan tenaga dan biaya untuk mengecat pagar, memasang bendera, atau meluangkan sebagian kamar di rumahnya sebagai tempat penginapan.

Namun, sebagian warga bersikap sebaliknya, bahwa upaya menggaet wisatawan dan mengubah daerah yang sebelumnya tidak dikenal menjadi obyek sasaran tak bisa instan. Menurut Fauziah, kuncinya ada pada warga, pelaku utama pariwisata. ”Saya yakin kuncinya senyum, ikhlas, sabar,” katanya.

Kompas/Hendra A Setyawan

Fauziah Madjid, pengelola penginapan (homestay) dan katering di Guaimaadu.

Fauziah dan beberapa warga pun bergerak bersama. Mereka bergabung sebagai penyedia tempat penginapan dan menetapkan sederet aturan demi kenyamanan wisatawan. Aturan itu, antara lain, terkait tarif sewa kamar AC Rp 150.000 per hari, non-AC Rp 100.000 per hari, dan biaya Rp 50.000 per orang untuk rombongan.

Para penyedia kamar inap juga harus mematuhi aturan soal pengisian kamar yang harus sesuai daftar urut, kecuali tamu tidak berkenan tinggal dan memilih homestay lain. Selain itu, tak ada pengelola yang mematok harga lebih mahal sekalipun permintaan kamar sedang tinggi saat penyelenggaraan festival.

Beberapa tahun terakhir, pariwisata Jailolo berkembang. Fauziah bahkan kini telah mengoordinasi 53 kamar dan 44 homestay di Desa Guaimaadu dan Gamtala. Semua dimiliki dan dikelola oleh warga. Perkumpulan ini juga menangkap pangsa paling besar dibandingkan dengan hotel atau tempat penginapan lain yang lebih formal.

Selain rumah penginapan, sektor jasa lain ikut berkembang di Jailolo, termasuk jasa ojek, rumah makan, serta penyewaan kapal dan perlengkapan menyelam atau berenang. Geliat festival di Teluk Jailolo turut berkontribusi pada kunjungan wisatawan yang terus meningkat di Maluku Utara. Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku Utara menunjukkan, jumlah wisatawan meningkat dari 64.464 orang tahun 2012 menjadi 292.761 orang tahun 2014.

Terhitung mulai tahun ini, pemerintah menggelar Festival Kepulauan Rempah yang merupakan kesepakatan ”segitiga emas” di Maluku Utara, yakni Jailolo, Ternate, dan Tidore. Festival Kepulauan Rempah menjadi acara pembuka Festival Teluk Jailolo dan diharapkan mengangkat pariwisata kepulauan penghasil cengkeh dan pala itu.

Dengan sederet kiprah itu, Fauziah mendapat sejumlah penghargaan. Dia juga berulang diundang untuk berbagi pengalaman tentang pemberdayaan perempuan. Sayangnya, Fauziah tak menyimpan dan mendokumentasikan penghargaan-penghargaan yang diterima itu dengan baik. (MUKHAMAD KURNIAWAN/ANTONIUS PONCO ANGGORO)