Lada pernah menjadi salah satu komoditas unggul di Sumatera Selatan sejak masa Sriwijaya. Puncaknya terjadi di masa Kesultanan Palembang Darussalam. Namun, karena persaingan dengan komoditas lain yang dinilai lebih ekonomis, lambat laun lada ditinggalkan petani. Kendati demikian, ada sebagian petani yang mempertahankannya sebagai tumpuan ekonomi, seperti di sekitar Danau Ranau, Ogan Komering Ulu Selatan.

Lada (Piper nigrum) tumbuh subur di sekitar Ranau di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, wilayah paling selatan Sumatera Selatan yang berbatasan dengan Lampung dan Bengkulu. Wilayah berketinggian 45-1.643 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memiliki suhu 22-28 derajat celsius. Tanah bekas letusan gunung api menumbuhkan beragam jenis tanaman, termasuk lada, kopi, cengkeh, dan kayu manis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan 2016, luas kebun lada di OKU Selatan mencapai 4.493 hektar, paling luas di Sumatera Selatan yang memiliki total luas kebun lada 11.643 hektar. Produksinya 3.763 ton atau 40 persen dari produksi lada Sumatera Selatan sebesar 9.218 ton.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura OKU Selatan Asep Sudarno, Kamis (9/3), mengatakan, masyarakat OKU Selatan, terutama sekitar Danau Ranau, sudah menanam tanaman rempah seperti lada sejak zaman Belanda. Kebiasaan tersebut diteruskan secara turun-temurun hingga sekarang.

Umumnya, masyarakat menanam lada bukan sebagai tanaman utama atau monokultur, melainkan tanaman selingan di antara tanaman kopi. Geliat menanam lada pun sangat bergantung pada dinamika harga. Ada suatu waktu tanaman lada ditinggal karena harganya anjlok, tetapi pada waktu lain warga menanamnya lagi karena harganya naik.

Sepuluh tahun terakhir, warga mulai bersemangat lagi menanam lada karena harganya dinilai tinggi. Puncaknya terjadi tahun 2006, ketika harga lada melonjak dari Rp 1.000 per kg atau kurang pada awal 2000 menjadi Rp 80.000 per kg. Petani kian bersemangat ketika harganya naik menjadi Rp 120.000-Rp 150.000 per kg pada kurun 2015-2016.

Warga beramai-ramai menanam lada di sela tanaman kopi. Kondisi itu dinilai menyebabkan produksi kopi turun. Lada yang merambat tinggi telah menaungi tanaman kopi di bawahnya sehingga kekurangan pasokan sinar.

Lada hitam

Lada OKU Selatan umumnya berasal dari perkebunan rakyat. Warga menanam lada secara turun-temurun dengan luas lahan berkisar 1-2 hektar. Mayoritas lada dari wilayah ini dikeringkan secara langsung dan dijual sebagai lada hitam. Sebagian kecil biji lada dipanen dalam kondisi matang, direndam untuk menghilangkan kulit luarnya, lalu dikeringkan dan dijual dalam bentuk lada putih.

Kompas/Wawan H Prabowo

Pedagang menunjukkan lada yang dijualnya di Pasar 16 Ilir Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (8/3).

Lada biasanya mulai berbunga antara bulan Desember dan Januari. Setelah melalui masa pembuahan, panen dimulai pada bulan Juli sampai beberapa bulan kemudian. ”Jadwal berbunga lada ini sangat bergantung pada kondisi cuaca juga. Kalau cuaca hujan terus, biasanya lebih lambat berbunga dan bunganya banyak rontok. Kalau kemarau, jadwal berbunga normal dan bunganya lebih banyak,” tutur Asep.

Lada dari OKU Selatan umumnya dijual kepada pengepul di Lampung, bukan di wilayah Sumatera Selatan. Sebab, jarak dan waktu tempuh ke Lampung dinilai lebih dekat. Di sisi lain, akses jalan dari OKU Selatan ke Lampung jauh lebih baik sehingga menekan ongkos pengangkutan. Harga jual antara Lampung dan Palembang dinilai tidak jauh beda. Kondisi ini pula yang membuat lada OKU Selatan kurang dikenal di provinsinya sendiri.

Lonjakan harga lada mengubah kehidupan warga OKU Selatan. Sebelum tahun 2006, harga lada hasil petani di pinggiran Danau Ranau hanya Rp 400 per kg, lebih rendah daripada harga kopi yang ketika itu Rp 1.000 per kg. Tahun 2006, harga lada melonjak berlipat menjadi Rp 80.000 per kg meski tak stabil sepanjang tahun.

Sepuluh tahun terakhir, Ali Akbar (64), petani di Desa Surabaya, Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan, merasakan betul hasilnya. ”Saya lalu tanam lada di antara tanaman kopi karena saya pikir prospeknya bagus,” ujarnya.

Prediksi Ali benar. Meski berfluktuasi, harga jual lada menguntungkan petani. Puncaknya terjadi pada 2015-2016 ketika harga lada menembus angka Rp 120.000-Rp 150.000 per kg. Dari 1,5 hektar kebunnya, Ali memanen sekitar 3 ton lada dan mendapatkan hasil kotor Rp 360 juta hingga Rp 450 juta per tahun. ”(Keuntungan) Bersihnya sekitar Rp 260 juta,” kata Ali yang biasa dipanggil Pak Haji.

Dari lada, Ali bisa berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji tahun 2006, empat kali umrah bersama istri selama kurun 2011-2017, dan membeli mobil baru seharga Rp 285 juta secara tunai! Lada pula yang mencukupi dan mengubah hidup petani dan warga desanya. Ini terlihat dari rumah-rumah yang berdiri mentereng atau sepeda motor dan mobil yang lalu lalang.

Rentan penyakit

Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Banding Agung Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura OKU Selatan, Mulyadi, mengatakan, lada sejatinya menguntungkan karena biaya modal pertama dan perawatannya tidak terlalu besar. Di sisi lain, tanaman ini punya masa produktivitas yang lama, mencapai 20 tahun. Peremajaannya juga mudah.

Akan tetapi, tanaman lada memiliki kerentanan terhadap hama dan penyakit. Hama yang sering menjangkiti lada antara lain penggerek batang, pengisap bunga, dan pengisap buah. Sementara penyakit yang sering melanda lada antara lain penyakit kuning, keriting, kerdil, busuk pangkal batang, busuk tunggul, busuk akar, septobasidium sp, jaring laba-laba, dan rambut ekor kuda.

KOMPAS/Dimas Tri Adiyanto

Pelayaran dengan kapal motor di Danau Ranau.

Penyakit kuning paling sering menyerang lada di kawasan Danau Ranau. Hingga kini, petani belum menemukan solusi untuk mengatasi penyakit kuning. Umumnya, apabila sudah terkena penyakit itu, tanaman lada langsung mati. ”Jika pun selamat, biasanya produktivitas tanaman tersebut menurun,” ujar Mulyadi.

Selain itu, petani banyak yang minim modal. Akibatnya, mereka bergantung pada tauke (pengepul). Biasanya, sebelum panen, mereka sudah mengambil uang atau utang kepada tauke. Saat panen, mereka wajib menjual hasil panen kepada tauke bersangkutan. Kondisi ini membuat daya tawar petani lemah. Mereka tidak punya kesempatan mencari keuntungan untuk memperoleh harga yang lebih baik.

Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan Fahrurrozi mengutarakan, tanaman lada cocok tumbuh di daerah OKU Selatan. Di daerah lain, tanaman tersebut kurang diminati petani, antara lain, karena kalah populer dibandingkan dengan komoditas perkebunan lain yang memiliki nilai jual lebih stabil.

Paling tidak, ada tiga komoditas perkebunan unggulan di Sumatera Selatan saat ini, yakni karet dengan luas kebun mencapai 1,220 juta hektar, kelapa sawit dengan luas kebun 257.236 hektar, dan kopi seluas 249.418 hektar. Bahkan, jumlah produksi karet Sumatera Selatan merupakan yang terbesar di Indonesia, mencapai 1 ton per tahun.

Demikian pula produksi kopi Sumatera Selatan merupakan yang terbesar di Sumatera, yakni sekitar 140.000 ton per tahun. ”Bagi masyarakat Sumatera Selatan, karet, sawit, dan kopi jauh lebih menguntungkan dibandingkan tanaman rempah seperti lada. Untuk itu, jumlah daerah yang menanam lada sangat minim, kecuali di OKU Selatan,” katanya.

Kendati demikian, lada memiliki catatan panjang di Sumatera Selatan, terutama dari masa Sriwijaya dan Kesultanan Palembang. Namun, kondisi itu sulit diulang lagi karena pengaruh dinamika pasar. (ADRIAN FAJRIANSYAH)