Lada merupakan satu dari tiga komoditas utama ekspor rempah Indonesia. Kontribusinya berkisar 24-26 persen di pasar dunia selama 2003-2013. Namun, pengembangannya tertatih, khususnya dari sisi produktivitas. Petani bersusah payah menghadapi hama penyakit.

Selama dua dekade sejak tahun 1990, produktivitas lada Indonesia hanya tumbuh 0,03 persen per tahun, tercatat 729 kilogram (kg) per hektar (ha) pada tahun 2009. Padahal, luas kebun bertambah 45,9 persen menjadi 185.937 ha.

Sejumlah perbaikan, antara lain melalui pemuliaan tanaman dan pemakaian bibit unggul, mendongkrak produksi lada (Piper nigrum). Selama kurun 2010-2014, produktivitas rata-rata tumbuh 2,5 persen per tahun, tercatat 824 kg per ha tahun 2014 mengacu data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian tahun 2015.

Pada tahun 2015, sesuai data International Pepper Community (IPC) yang merupakan organisasi negara-negara penghasil lada dunia, produktivitas lada Indonesia 663,79 kg per ha. Angka ini jauh lebih rendah dari produktivitas lada Vietnam yang mencapai 2.280 kg per ha, Brazil 2.075 kg per ha, Malaysia 1.380 kg per ha, atau Sri Lanka 838 kg per ha.

Selain serangan hama penyakit, faktor cuaca berpengaruh pada hasil panen petani. Hasil panen petani lada di Lampung musim ini, misalnya, anjlok karena bunga rontok diguyur hujan deras. Produksi petani di salah satu sentra utama lada Indonesia ini pun menurun tajam.

Kompas/Iwan Setiyawan

Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung merawat bibit lada yang dikembangkan di BPTP Lampung, Rabu (5/4).

Dirman, petani di Sukadana Baru, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, hanya memanen 5 kuintal lada dari 1 hektar kebunnya Juli 2017. Padahal, dia biasanya bisa memanen hingga 2 ton. Nasib serupa dialami petani lain di desanya.

Selain hujan deras, sebagian tanaman diserang penyakit busuk pangkal batang. Penyakit ini membuat  batang tamanan lada berjamur dan membusuk lalu menguning dan akhirnya mati. Bagi sejumlah petani, panen adalah sesuatu yang tak pasti, sebab cuaca dan penyakit tak bisa ditebak datangnya. Sayangnya, tak sedikit petani yang kebingungan harus bertanya kepada siapa.

Ketua Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Lampung, Sumita berpendapat, upaya pengembangan belum optimal meski lada menjadi sumber devisa. Petani menghadapi hama penyakit dan ketidakpastian cuaca yang kerap menjatuhkan hasil panen. Sayangnya, antisipasi pemerintah masih kurang.

Program penyuluhan juga tidak berjalan dengan baik. Petani sering kali kebingungan menghadapi cuaca yang berubah dan kadang salah mengidentifikasi hama atau penyakit. Akibatnya, jenis pestisida yang diaplikasikan tak tepat. Dosisnya pun kadang tak sesuai kebutuhan.

Pemuliaan

Peneliti senior pada Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Kementerian Pertanian Nurliani Bermawie menyatakan, rendahnya produktivitas antara lain dipicu oleh serangan busuk pangkal batang (BPB). Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici yang mematikan tanaman.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

Petugas memeriksa berbagai tanaman yang dikembangkan di kebun percobaan milik Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung di Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Rabu (5/4). Kebun percobaan tersebut mengembangkan komoditas tanaman yang menjadi potensi Lampung seperti lada, vanili, kakao dan kopi.

BPB menjadi penyakit yang paling ditakuti petani karena dampaknya. Direktorat Perlindungan Tanaman Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat kerugian akibat serangan BPB menyebabkan kerugian hingga Rp 16 miliar pada tahun 2010.

Dyah Manohara dan Rusli Kasim dalam Monograf Lada menyebutkan, penyakit BPB menyebabkan banyak tanaman lada mati pada tahun 1953-1956 sehingga Indonesia hanya mampu memenuhi 23 persen kebutuhan dunia. Padahal, sebelum Perang Dunia II, wilayah Nusantara merupakan penghasil lada terbesar yang mampu memenuhi 80 persen kebutuhan dunia.

Penyakit ini juga menjadi kendala utama produksi yang dihadapi negara-negara penghasil lada, seperti India, Malaysia, dan Brazil. Kehilangan hasil akibat penyakit ini diperkirakan mencapai 20-30 persen.

Dalam jangka panjang, kata Nurliani, penyakit BPB paling efektif dikendalikan melalui pemuliaan ketahanan. Selain BPB, pemuliaan ditempuh untuk menghasilkan bibit tanaman yang tahan terhadap hama penggerek batang dan toleran terhadap cekaman. Pemuliaan lada telah dimulai sejak tahun 1980-an dengan fokus pada produksi tinggi dan tahan terhadap penyakit BPB.

Pemuliaan melalui seleksi telah menghasilkan sembilan varietas unggul yang dilepas tahun 1988, 1993, dan 2015, yakni Petaling 1, Petaling 2, Natar 1, Natar 2, Chunuk, Lampung Daun Kecil (LDK), Bengkayang, Malonan 1, dan Ciinten. Potensi produksinya mencapai 1,97-4,48 ton per hektar. Beberapa di antaranya relatif tahan terhadap BPB, seperti Petaling 2, Chunuk, LDK, dan Natar 1.

Akan tetapi, varietas unggul yang telah dilepas tidak ada yang benar-benar tahan terhadap penyakit BPB. Gen ketahanan tidak tersedia pada plasma nutfah lada budidaya, tetapi ditemukan pada lada liar seperti Piper colubrinum. Oleh karena itu, pemuliaan dinilai perlu dilanjutkan untuk menghasilkan varietas yang lebih tahan BPB. (MUKHAMAD KURNIAWAN)