Tahun ini genap 350 tahun berlangsungnya Perjanjian Breda yang menetapkan penukaran Pulau Run dengan Manhattan. Sayangnya, sejarah legendaris itu hanya menyisakan kenangan pilu. Keemasan pulau mungil itu benar-benar lenyap ditelan waktu. Tak pernah ada upaya untuk mengangkat lagi kejayaannya.

Perahu motor yang kami tumpangi perlahan merapat di bibir pantai sebuah pulau karang, persis di sebelah dermaga kecil. Tak jauh dari situ, satu rumah dengan papan nama bertuliskan ”Manhattan 2 Guesthouse” menyambut kami. Ah, inilah ”Manhattan” di tengah Laut Banda itu.

Pulau itu adalah Run, daratan mungil di bagian paling barat gugusan Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Meski hanya 330 hektar, atau sekitar empat kali luas Lapangan Monas, pulau itu menyimpan cerita besar terkait sejarah pertukarannya dengan Manhattan di New York City, Amerika Serikat.

Permukiman warga terpusat di sisi barat laut pulau di sepanjang garis pantai yang sekaligus menjadi lokasi dermaga serta perahu-perahu berlabuh. Pantai sepanjang sekitar 600 meter yang telah ditanggul itu adalah satu-satunya area terbuka untuk memasuki Run. Wilayah lainnya di sekeliling sisi luar pulau merupakan tebing-tebing karang tinggi.

Luas kawasan permukiman hanya sekitar 4 hektar dengan rumah-rumah warga berjajar di tepi pantai dan berundak ke belakang hingga memenuhi punggung bukit. Salah satunya penginapan sederhana bernama Manhattan 2 Guesthouse tadi yang sontak mengingatkan pengunjung akan ”ikatan” antara Run dan Manhattan.

Pada abad ke-17, dua kekuatan adidaya dunia saat itu, yakni Belanda dan Inggris, saling bunuh memperebutkan Run untuk menguasai pala. Setelah berperang selama puluhan tahun, pada tahun 1667, kedua negara berdamai dalam ”Perjanjian Breda”.

Pasal 3 Perjanjian Breda memutuskan Pulau Run yang sebelumnya dikuasai Inggris tetapi sedang diduduki Belanda menjadi milik Belanda. Adapun Pulau Manhattan di Amerika, yang merupakan koloni Belanda tetapi tengah digenggam Inggris, resmi sebagai hak Inggris.

REUTERS/Lucas Jackson

Matahari terbit terlihat di Pulau Manhattan, New York, Amerika Serikat, November 2016, yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Pulau ini adalah pusat ekonomi global yang berada di jantung New York City, megapolitan paling masyhur di Amerika Serikat.

Meski luas Manhattan 18 kali lipat dari Run, kesepakatan itu sangat menguntungkan Belanda. Penguasaan atas Run membuat Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Kepulauan Banda, satu-satunya kawasan penghasil pala di dunia kala itu.

Sebelumnya, sejak tahun 1621, Belanda telah mencengkeram 10 pulau lain di Banda. Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda alias VOC pun memegang monopoli sempurna perdagangan rempah berharga selangit itu. Sebuah catatan Jerman dari abad ke-14 menyebutkan, harga 0,5 kilogram pala setara dengan tujuh lembu jantan gemuk!

Alur nasib

Namun, perjalanan waktu membuat alur nasib berubah. Manhattan, yang dulunya hanya merupakan pos dagang bulu binatang, menjelma menjadi salah satu kota paling maju di dunia. Pulau itu adalah pusat ekonomi global yang berada di jantung New York City, megapolitan paling masyhur di Amerika Serikat.

Sementara itu, Run seolah belum beranjak jauh dari abad ke-17. Sejak kemunduran perdagangan pala berikut anjloknya harga pada abad ke-18, pulau itu seperti dilupakan. Nasibnya kini masih terpencil seperti lokasinya.

Secara administratif, Run berstatus desa di Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Jaraknya lebih kurang 114 mil laut (211 kilometer) dari Ambon, ibu kota Provinsi Maluku. Dari Ambon, perjalanan ke Run harus melalui Pulau Naira, ibu kota Kecamatan Banda, yang berjarak sekitar 17 mil laut (31 kilometer) dari Run.

Sarana transportasi dari Ambon ke Naira menggunakan kapal Pelni, kapal cepat, atau pesawat perintis berkapasitas 12 penumpang. Selanjutnya, perjalanan ke Run dilanjutkan menggunakan kapal kayu atau perahu motor yang pengoperasiannya sangat bergantung pada cuaca.

Saat puncak musim angin timur (Juni-Agustus) dan angin barat (Desember-Februari), Run tak memungkinkan dijangkau dengan perahu atau kapal kecil. Tinggi gelombang di wilayah perairan terdalam di Nusantara itu bisa mencapai 4 meter.

Kami merasakan secuil keganasan Laut Banda itu saat bertolak dari Naira menuju Run akhir April lalu. Perahu yang kami tumpangi bersama sejumlah turis berguncang keras saat menerabasi gelombang berketinggian sekitar 1 meter.

Seorang penumpang bahkan sampai muntah berkali-kali. Nyali dan ketenangan seketika runtuh berganti cemas dan kalut. Terbayang kira-kira kengeriannya jika perjalanan dilakukan saat puncak musim angin timur atau barat.

Di darat, kondisi Run sangat kontras dengan Manhattan. Jika di Manhattan hiruk-pikuk lalu lintas tak pernah putus, di Run malah tak ada satu mobil pun. Jaringan jalan di pulau itu hanya berupa lapisan semen selebar 2 meter.

Kepala Desa Run Bahasa Lakapota mengatakan, cuma ada delapan sepeda motor di pulau itu. Ia pun sampai hafal satu per satu nama pemiliknya.

Tergantung air hujan

Untuk kebutuhan hidup, sebanyak 1.923 jiwa penduduk Run mengandalkan hujan sebagai sumber utama air bersih. Saat kemarau panjang, seperti yang terakhir dialami pada tahun 2002, warga mesti mendatangkan air dari Naira.

”Saat itu, hujan tidak turun selama sembilan bulan. Kami harus membeli satu jeriken air berisi 5 liter seharga Rp 20.000,” kata Bahasa. Saat ini, kondisi lebih baik karena sejak tahun 2015 ada sumur bor bantuan pemerintah provinsi meskipun airnya agak payau sehingga hanya dipakai untuk keperluan selain konsumsi.

Gemerlap cahaya yang memandikan Manhattan merupakan barang langka di Run. Baru dua tahun terakhir warga mendapatkan pasokan listrik tenaga diesel dari penyedia listrik perorangan. Itu pun listrik hanya hidup dari pukul 18.00 hingga pukul 23.00. Sebelumnya, warga harus memiliki genset sendiri untuk menikmati listrik.

”Kami berharap listrik PLN segera masuk sesuai program Presiden Joko Widodo, ’Indonesia Terang’. Pemerintah jangan hanya membuat fasilitas di kota, kami di pulau juga mau menikmati pembangunan,” ujar Idris (37), warga Run.

Di pulau itu juga hanya terdapat satu puskesmas dengan seorang bidan dan seorang perawat tanpa dokter. Pasien yang sakit berat terpaksa dibawa ke Naira yang ditempuh sekitar 1,5 jam berperahu motor.

Jika kondisi masih tak bisa ditangani di Naira, pasien dirujuk ke Ambon atau Masohi, ibu kota kabupaten, yang ditempuh selama 5-6 jam berperahu motor. ”Kami berharap ada dokter yang ditempatkan di sini,” ucap Bahasa.

Soal pendidikan? Hingga kini belum ada sekolah menengah atas di Run. Anak-anak lulusan sekolah menengah pertama harus hijrah ke Naira untuk melanjutkan pendidikan.

Kompas/Totok Wijayanto

Anak-anak bermain bola di pantai dermaga Pulau Run, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Kamis (27/4). Di pulau seluas 330 hektar tersebut, tingkat pendidikan hanya sampai SMP. Siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya harus hijrah ke Banda Naira yang berjarak sekitar 1,5 jam berperahu motor.

Namun, anak-anak yang tidak memiliki kerabat di Naira atau keluarganya tidak mampu membiayai kebutuhan hidup di sana terpaksa putus sekolah. ”Tahun lalu, dari 22 anak lulusan SMP, sebanyak empat anak tidak melanjutkan ke SMA karena masalah tersebut,” ujar Bahasa yang juga menjabat Kepala SD Negeri Run.

Meski pala masih menjadi sumber pendapatan utama, mayoritas warga Run juga bekerja sebagai nelayan untuk menambah penghasilan, seperti yang dilakukan La Ane (70). Ia hanya memiliki sekitar 20 pohon pala yang berusia 10 tahun.

Setiap tahun, hasil panen paling maksimal 30 kilogram biji pala dan 9 kilogram bunga pala senilai total Rp 3,42 juta. Jumlah itu tentu tak mencukupi kebutuhan keluarga La Ane yang memiliki enam anak.

La Ane melaut bersama tiga temannya memakai perahu milik seorang juragan. Biasanya ia pergi selama 15 hari penuh sebelum kembali dengan tangkapan rata-rata 300 kilogram. ”Karena tidak ada alat pendingin, hasil tangkapan seperti kakap, kerapu, dan tenggiri diasinkan sebelum dijual ke Naira seharga Rp 50.000 per kilogram,” katanya.

Pasokan listrik yang tak memadai membuat nelayan di Run kesulitan mengawetkan ikan. Jika tidak diasinkan, ikan yang dijual segar hanya dihargai rendah. Contohnya, satu ikan kerapu dengan bobot sekitar 7 ons hanya dijual Rp 10.000. Di Ambon, ikan serupa harganya hampir Rp 100.000.

Hasil melaut harus dikurangi biaya operasional, peralatan, serta bagian pemilik perahu sebelum dibagi rata untuk La Ane dan ketiga kawannya. Biasanya La Ane membawa pulang sekitar Rp 1 juta setiap kali melaut.

Pendapatan yang minim itu pun hanya bisa diperoleh selama cuaca baik atau hanya sekitar enam bulan dalam setahun. Saat cuaca buruk, aktivitas melaut berhenti.

Run yang dulu diperebutkan dunia kini merana. Balada serupa dirasakan warga di banyak pulau terpencil lainnya di Nusantara. Ah, Manhattan…. (FRANS PATI HERIN/MOHAMAD FINAL DAENG/ALOYSIUS B KURNIAWAN)